Dua terakhir ini, nilai mata uang rupiah Indonesia mengalami kelemahan hingga Rp.13.200,- per dollar AS, hal ini diuraikan oleh otoritas moneteri BI yang katanya sedang mengatur dan menjaga nilai tukar rupiah. Sama halnya dengan Yen juga mengalami pelemahan waktu itu, kini menguat kembali, sedangkan Poundsterling yang dulunya menguat kini mulai melemah hingga 11 persen. Ini berarti bahwa kurs itu bisa mengambang, naik dan turun.


Katanya bahwa melemahnya rupiah dianggap wajar dan sesuai dengan pengerakan kurs internasional di negara-negara tetangga, hal ini dianggap normal. Menurut Mirza bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini membaik dipandang dari sudut inflasi dan deficit ekspor impor barang-barang jasa. Untuk inflasi tahun ini saja dibawah 4 persen, sehingga dapat dikatakan komitmen presiden untuk mengendalikan harga pangan dalam negeri sudah cukup baik. Karena pemerintah juga sedikit membuka kran impor untuk beberapa produk yang inflasinya cenderung tinggi.